Social Icons

Senin, 01 April 2013

Acute Mountain Sickness

Altitude sickness—also known as acute mountain sickness (AMS), altitude illness, hypobaropathy, "the altitude bends", or soroche—is a pathological effect of high altitude on humans, caused by acute exposure to low partial pressure of oxygen at high altitude. It commonly occurs above 2,400 metres (8,000 feet).[1][2] It presents as a collection of nonspecific symptoms, acquired at high altitude or in low air pressure, resembling a case of "flu, carbon monoxide poisoning, or a hangover".[3] It is hard to determine who will be affected by altitude sickness, as there are no specific factors that correlate with a susceptibility to altitude sickness. However, most people can ascend to 2,400 metres (8,000 ft) without difficulty.
Acute mountain sickness can progress to high altitude pulmonary edema (HAPE) or high altitude cerebral edema (HACE), which are potentially fatal.[2][4]
Chronic mountain sickness, also known as Monge's disease, is a different condition that only occurs after very prolonged exposure to high altitude.[5]

Sumber


Acute Mountain Sickness, Penyakit yang Sering Mengenai Pendaki Gunung

Acute mountain sickness atau penyakit gunung merupakan suatu penyakit yang banyak menyerang para pendaki gunung. Penyakit ini terjadi terutama pada pendakian lebih dari 2400 meter. Tidak jarang, pendaki gunung meninggal karena mountain sickness.
Penyakit yang juga disebut altitude sickness ini terjadi karena ketidakmampuan tubuh untuk beradaptasi dengan kondisi alam di pegunungan yang berbeda dibandingkan dataran rendah. Di daerah pegunungan, tekanan udara dan kadar oksigen lebih rendah dibanding dengan dataran rendah, hal ini menyebabkan tubuh kekurangan oksigen.
Beberapa penyebab acute mountain sickness antara lain adalah :
  1. Ketinggian yang dicapai
  2. Medaki terlalu cepat
  3. Kelelahan
  4. Kekurangan cairan
Gejala yang ditimbulkan oleh acute mountain sickness dapat terjadi secara ringan hingga berat. Gejala yang sering timbul antara lain adalah nyeri kepala, kelelahan, sakit perut, penurunan nafsu makan, pusing, dan gangguan tidur. Pada beberapa kasus yang berat, penyakit ini dapat menyebabkan penumpukan cairan pada paru-paru atau otak, yang apabila terjadi maka penderita dapat mengalami demam, kebingungan, tidak seimbang, muntah, pingsan, gangguan penglihatan, sesak, dan kebiruan pada bibir atau kuku. Keadaan tersebut dapat berakibat fatal dan menyebabkan kematian apabila tidak mendapat pertolongan segera.
Untuk pencegahan kondisi seperti ini dapat dilakukan dengan aklimatisasi yang baik, yaitu dengan mendaki perlahan, sehingga memberikan waktu bagi tubuh untuk beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang baru. Selain itu, jangan terlalu lelah dan minum cukup air.
Terapi terbaik untuk acute mountain sickness adalah dengan turun gunung. Pada kasus yang ringan, anda dapat berisitirahat sejenak hingga kondisi tubuh stabil dan terbiasa dengan kadar oksigen yang rendah. Pemberian oksigen dapat pula dilakukan untuk memperbaiki kondisi pasien. Apabila ada dokter atau tenaga medis di sekitar, pengobatan dengan acetazolamide dapat diberikan untuk mempercepat kemampuan tubuh untuk beradaptasi pada ketinggian. Ada pula perlengkapan khusus yang dapat digunakan untuk memberi pertolongan pada kasus acute mountain sickness yang berat, yaitu Gamow bag.
Mendaki gunung memang menyenangkan, tapi tentunya diperlukan persiapan dan pengetahuan yang cukup agar dapat menikmatinya. Acute mountain sickness dapat terjadi pada siapapun, laki-laki atau wanita, oleh karena itu berhati-hatilah dalam mendaki gunung.

Sumber

Tidak ada komentar:

Posting Komentar